Rasanya hampir setiap bulan kita melihat berita gempa bumi yang melanda saat ini. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di setiap bagian belahan dunia merasakan gempa. Walau daya gempa tidak sampai membuat kerusakan parah, tapi cukup membuat kita semua khawatir.
Untuk itu, kita perlu menyiapkan rumah yang tahan terhadap gempa, apalagi kita tinggal di kawasan yang rawan terjadi gempa. Rumah tahan gempa bukan hanya soal pondasi yang kuat dan besar, tapi juga tentang bagaimana setiap bagian rumah saling bekerja menjaga kestabilan struktur.
Banyak orang berpikir bahwa cukup dengan menambah besi atau beton yang banyak dan besar, rumah otomatis akan kuat. Padahal ada banyak sekali faktor lain yang menentukan ketahanan rumah terhadap gempa.
Di Jepang, setiap rumah memiliki sistem peredam getaran dengan sangat baik. Di balik sistem peredam yang bekerja dengan baik, terdapat pula kerangka rumah yang kokoh, kuat, dan fleksibel.
Nah untuk bisa membangun rumah yang kokoh, ikuti tips dibawah ini agar rumah kamu nanti tahan terhadap berbagai kondisi alam dan juga nyaman ditempati.
Pertama, perencanaan struktur harus matang. Arsitek dan ahli sipil harus memperhitungkan beban, gaya lateral, dan fleksibilitas bangunan. Rumah yang tahan gempa biasanya tidak terlalu tinggi dan memiliki bentuk yang simetris agar beban terbagi merata.
Kedua, kualitas material sangat menentukan. Gunakan bahan bangunan yang kuat dan fleksibel, bukan hanya keras. Salah satu faktor penting ada pada material pondasi dan dinding. Material yang terlihat rapuh bisa mudah retak atau roboh saat terjadi getaran. Itulah sebabnya kalian harus memilih bahan pondasi dan dinding berkualitas. Gunakanlah tiang beton bertualang dengan besi yang sesuai standar SNI untuk pondasi. Untuk materia dinding, gunakanlah bahan terbaik seperti Bata Hitam Premium Reclea Brick. Bata ini sudah teruji lebih unggul daripada batu bata merah biasa. Bata hitam ini memiliki kepadatan tinggi, setiap siku presisi, ukuran lebih besar, dan kekuatan tekan yang jauh lebih baik dibanding batu bata biasa, sehingga dinding lebih kokoh dan mampu menahan guncangan.
Selanjutnya, sambungan antarstruktur harus dibuat kuat namun lentur. Misalnya, antara kolom dan balok perlu diberi sambungan yang bisa sedikit bergerak tanpa patah. Prinsipnya, bangunan yang tahan gempa itu seperti manusia yang lentur yang bisa mengikuti gerakan bumi tanpa langsung ambruk.
Faktor lain adalah pondasi yang dibuat sesuai kondisi tanah. Tanah lunak atau tanah bekas timbunan perlu diperkuat terlebih dahulu sebelum membangun. Pondasi cakar ayam atau plat beton bisa jadi pilihan tepat agar distribusi beban lebih stabil.
Dan terakhir, faktor pengerjaan juga tidak kalah penting. Sebagus apa pun material yang digunakan, jika proses pembangunannya asal-asalan, hasilnya tetap berisiko. Pastikan tukang berpengalaman, lakukan pengawasan ketat, dan semua standar konstruksi dipatuhi.
Jadi, rumah tahan gempa itu bisa diciptakan hasil dari perencanaan yang matang, material berkualitas, dan pengerjaan yang tepat.